Sunday, 12 October 2014

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI DASAR TENTANG Sel Hewan, Sel Tumbuhan, dan Benda Kecil Lainnya

LAPORAN PRAKTIKUM
BIOLOGI DASAR
Sel Hewan, Sel Tumbuhan, dan Benda Kecil Lainnya
Disusun oleh :
HENGKI HARIADI
E1D011056
SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
  1. Pendahuluan
1.1 Latar belakang
Sel merupakan organisasi terkecil dari materil yang mengandung kehidupan. Beberapa ahli biologi mengatakan adanya kehidupan didalam suatu partikel yang lebih kecil dari sel yang terkecil di sebut virus.
Bentuk sel ada yang pipih, memanjang, sangat panjang dan bikonkaf. Sedang ukuran dari sel pada umumnya microskopis. Pada manusia diameter rata-rata kira-kira 10µ, namun pada sel-sel telur yang belum memulai perkembangan, merupakan sel tungal yang biasanya terlihat dengan mata biasa (anonymous, 2009).
Sel pertama kali dikenalkan oleh Robert hooke pada tahun 1665 yang mengamati jaringan gabus pada tumbuhan yang merupakan kesatuan fungsional makhluk hidup. Semua fungsi kehidupan diatur dan berlangsung di dalam sel. Karena itulah sel dapat berfungsi secarqa autimon asalkan seluruh kebutuhan hidupnya terpenuhi (anonymous, 2009).
1.2 Maksud dan tujuan
Maksud dengan adanya praktikum ini adalah agar para praktikan dapat mengetahui ciri-ciri dan perbedaan antar sel hewan dengan sel tumbuhan.
Tujuan dengan diadakanya praktikun biologa dasar tentang sel hewan dan sel tumbuhan adalah untuk menerapkan penggunaan dengan baik dan tepat, serta memahami ciri-ciri sekaligus dapat membedakan sel hewan dengan sel tumbuhan.
1.3 Waktu dan tempat
Praktikum buologi dasar tentang sel hewan dan sel tumbuhan dilaksanakan padahari senin tangal 12 oktober 2009 pukul 10.00-12.00 wib. Bertempat di laboratorium IIP (ilmu-ilmu perairan) fakultas perikanan dan ilmu kelautan universitas Brawijaya Malang
2. Tinjauan pustaka
2.1 Pengertian sel
Sel merupakan unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupai dalam arti biologis. Semua fungsi kehidupan di atur dalam suatu sel dan berlangsung didalamnya. Sel juga terbagi menjadi 2 yaitu: sel eukariota, dan sel prokariota. Sel prokariota beradaptasi dengan kehidupan uniselular, sedangkan sel-sel eukariota beradaptasi untuk hidup saling kerja sama dalam lingkup yang rapi (anonymous 2009)
2.2 bentuk-bentuk sel dan contohnya
Pada sel hewan bentuknya tidak tetap karena tidak memiliki dinding sel , sehinga membrane sel dapat bergerak dengan bebas. Pada tumbuhan bentuknya tetap karenamemiliki dinding sel, sehingga gerakaan membrane sel terbatas. Sel bisa berbentuk batang (basil), bulat (coclus), oval dan spiral (anonymous 2009).
2.3 Bagian-bagian sel dan fungsinya
> Membran plasma : berfungsi untuk melindungi sel, mengatur keluar masuknya zat-zatdan sebagai respirator dari rangsanganluar sel.
> sitoplasma : sebagai tempat berlangsungnya reaksi metabolisme sel.
> nucleus : sebagai pengendali kehidupan sel, pengatur pembelahan sel, pengatur warisan sifat dan pengatur pembelahan sel.
> lisosom : berfungsi mencerna zat-zat yang masuk ke dalam sel
> RE (halus) : berfungsi mensitesis lemak, dan menetralisir racun.
> kompleks golgi : organel yang menampung dan mengolah protein.
> mikrotubulus : mengatur dalam pergerakan kromosom saat sel membelah.
> vakoula : tempat menyimpan cadangan makanan
> mitokondria : sebagai tempat respirasi selular.
> badan bolgi : merupakan tempat situs respirasi selular.
> kloroplas : tempat berlangsungnya fotosintesis.
2.4 Perbedaan sel hewan dengan sel tumbuhan
No Sel tumbuhan Sel hewan
1 Tidak ada sentriol Terdapa sentriol
2 Terdapat sitokenesis Tidak ada pembentukan dinding sel
3 Tidak ada pembatasan pertumbuhan Terdapat batasan pertumbuhan
4 Sel lebih besar Sel lebih kecil
5 Tidak mempunyai sentrosom Mempunyai sentrosom
6 Tidak memiliki lisosom Memiliki lisosom
7 Mempunyai dinding sel Mempunyai dinding sel

3. METODOLOGI
3.1 Alat dan fungsi
Dalam praktikum biologi dasar tentang sel hewan, sel tumbuhan dan benda kecil lainya adapun alat-alat yang digunakan diantaranya:
Microskop binokuler : untuk mengamati sel hewan dan sel tumbuhan
Object glass : sebagai wadah untuk meletakan preparat
Tissue : untuk membersihkan kaca preparat sebelum di letakan pada microskop.
Silet : untuk mengiris tipis bahan-bahan yang akan diamati dengan menggunakan microskop.
Cover glass : untuk melindungi atau untuk menutup preparat.
Lap flannel : unng tuk membersihkan cover glass.
Jarum pentul : untuk mengambil sel gabus pada batang ketela pohon.
Batang korek api : untuk mengambil epithelium squamosum pada pipi.
3.2 Bahan dan fungsi
Dalam praktikum mengenai sel tumbuhan, sel hewan dan benda kecil lainya adapun bahan-bahan yang digunakan diantaranya:
Ephitelium squasum pipi : sebagai bahan yang akan diamati untuk dilihat bentuk selnya.
Ketela pohon : sebagai bahan yang akan diamati bentuk selnya
Kulit umbi bawang merah : sebagai bahan yang akan diamati bentuk selnya
Kentang : sebagai bahan yang akan diamati bentuk selnya.
Sel gabus / irisan gabus : sebagai bahan yang akan diamati bentuk selnya.
Paramecium dan muchor : sebagai bahan yamg akan diamati bentuk selnya.
Aquades : untuk memperjelas hasil pengamatan
Larutan y-ky : untuk memperjelas hasil pengamatan.
3.3 Skema kerja
  • Kentang
1. mikroskop disiapkan
2. kentang :
Disayat tipis dengan silet
Diletakan pada objek glass.
Di tetesi larutan y-ky (1 tetes)
Di tutup dengan cover glass.
Di ganti dengan microskop dengan perbesaran 400X
Di amati dan di gambar
  • Ketela pohon
1. mikroskop disiapkan
2. Ketela pohon :
Diambil , disayat tipis dengan silet
Diletakan pada objek glass.
Di tetesi larutan y-ky (1 tetes)
Di tutup dengan cover glass.
Di ganti dengan microskop dengan perbesaran 400X
Di amati dan di gambar
  • Umbi bawang merah
1. Mikroskop disiapkan
2. Umbi bawang merah :
Diambil , disayat tipis dengan silet
Diletakan pada objek glass.
Di tetesi aquades
Di tutup dengan cover glass.
Di ganti dengan microskop dengan perbesaran 400X
Di amati dan di gambar
  • Paramecium
1. mikroskop disiapkan
2.Kultur jaringan air
3. Paramecium :
Diambil dengan menggunakan pipat tetes
Di teteskan pada objek glass.
Di tutup dengan cover glass.
Di ganti dengan microskop dengan perbesaran 400X
Di amati dan di gambar
  • Epithelium pipi
1. mikroskop disiapkan
2. Epithelium diambil di pipi :
dikorek bagian dalam pipi dengan menggunakan batang korek api
dioleskan di atas objek glass.
di tetesi dengan larutan larutan biru metile
di tutup dengan cover glass.
di ganti dengan microskop dengan perbesaran 400X
di amati dan di gambar
  • muchor
1. mikroskop disiapkan
2. Mucor diambil pada air tawar :
Di diamkan beberapa hari di udara terbuku
Diambil dengan menggunakan pipet tetes
Dioleskan di atas objek glass.
Di tetesi dengan alcohol 20%
Di tutup dengan cover glass.
Di ganti dengan microskop dengan perbesaran 400X
Di amati dan di gambar
4. PEMBAHASAN
    1. Data uji Pengamatan
NO NAMA SEL GAMBAR TANGAN GAMBAR LITERATUR
1
2
3
4
5
6
KENTANG
SEL GABUS
PARAMECIUM
SEL BATANG KETELA
MUCHOR
EPHITELIUM PIPI


4.2 Analisa prosedur
- kentang
Pertama-tama mempersipkan alat dan bahan, kemudian menyayat kentang tipis-tipis dengan menggunakan silet lalu meletekan sayatan kentang pada objek glass dan tatasi kentang dengan larutan y-ky kemudian menutup objek glass dengan menggunakan cover glass terus mengamati dengan menggunakan microskop yang menggunakan perbesaran 400X kemudian mengamati dan mengambar.
  • ketela pohon
pertama-tama mempersiapkan alat dan bahan yang akan diggunakan.kemudian menyayat tipis ketela pohon dengan menggunakan silet kemudian meletakan objek pada objek glass dan menetesi dengan aquades. Usahakan objek glass miring dengan kemiringan 45 derajat kemudian menutup dengan cover glass terus mengamati menggunakan microskop dengan perbesaran 400X terus mengamati dan menggambar objek.
  • Bawang merah
Pertama-tama mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan , mula-mula menyayat kulit bawang tipis –tipis dengan menggunakan silet, kemudian meletakan pada objek glass dan menetesi menggunakan aquades, usahakan objek glass miring kira-kira 45 derajat kemudian menutup bengan cover glass kemudian mengamati dengan menggunakan microskop dengan perbesaran 400X terus mengamati dan menggambar.
  • Paramechium
Pertama-tama mempersiapkan alat dan bahan yang akan diggunakan, kemudian mengambil segelas air kultur jerami dan mengambil beberapa tetes dengan menggunakan pipet tetes lalu meneteskan pada objek glass usahakan objek glass miring kira-kira 45 derajat terus di tutup dengan cover glass, kemudian mengamati dengan microskop dengan perbesaran 400X lalu mengamati dan menggambar
  • Ephitelium pipi
Pertama-tama mempersiapkan alat dan bahan yang akan diggunakan,kemudian mengorek pada bagian pipi dalam menggunakan korek penthul, , kemudian meletakan pada objek glass dengan menetesi larutan biru methilen, usahakan objek glass miring kira-kira 45 derajat kemudian menutup bengan cover glass kemudian mengamati dengan menggunakan microskop dengan perbesaran 400X terus mengamati dan menggambar.
    1. Analisa Hasil
Dari data pengamatan yang telah dilakukan didapatkan gambar-gambar sebagai berikut:
Sel kentang mucor
Epithelium pipi sel batang ketela
paramecium sel gabus
pada literature terdapat gambar seperti padahasil pengamatan terdapatbeberapa gambar yang tidak sama yaitu: ephitelium pipi dan sel gabus. Kemungkinan pada percobaan kali ini tedapat kesalahan atau ketidaksamaam microskop didalam perbesaran ataupun jenisnya. Pada gambar asli bentuk sel gabus tetapi pada gambar litertur bentuknya seperti sel bawang. Sedangkan bentuk sel epithelium pipi menurut pengamatan dari praktikum bentuknya memanjang pada inti sel lalu pada gambar literatur bentuknya seperti sel bawang juga. Jadi dari hasil pengamatan yang telah dilakukan dengan menggunakan perbesaran 10X10 = 100X perbesaran dengan menggunakan lensa okuler X lensa objektif.
5. PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Setelah melakukan praktikum biologi mengenai sel hewan dan sel tumbuhan dapat di simpulkan bahwa:
  • Sel merupakan penyusun struktur kehidupan yang paling kecil atau paling sederhana .
  • Pada sel hewan bentuk sel tidak tetap karena tidak memiliki dinding sel sehingga membrane sel dapat bergerak dengan bebas.
  • Pada tumbuhan memiliki bentuk yang tetap karena memliki sel sehingga gerakan membrane sel terbatas.
  • Pada praktikum mengenai sel hewan dan tumbuhan adapun alat-alat yang digunakan diantaranya: microskop binokuler, objek glass, tissue silet batang korek api, jarum penthul dan cover glass.
  • Pada praktikum mengenai sel hewan dan tumbuhan adapun alat-alat yang digunakan diantaranya: ketela pohon, bawang merah, ephitelium squasum, kentang sel gabus, paramecium, aquades dan larutan y-ky.
5.2 SARAN
Setiap pengamatan harus dilakukan dengan teliti untuk mendapatkan hasil yang maximal. Dalam proses pengamatan objek dengan menggunakan microskop pengaturan focus sebaiknya dilakukan dengan pelan-pelan.

Thursday, 10 July 2014

proposal penelitian tingkat kemiskinan

"FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KEMISKINAN MASYARAKAT DI DESA SINDANG DATARAN KABUPATEN REJANGLEBONG PROVINSI BENGKULU".
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Kemiskinan merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi oleh negara-negara berkembang. Kondisi keterpurukan / resesi ekonomi di negara-negara Asia pada akhir tahun 90-an hingga kini semakin menambah jumlah keluarga miskin di negara berkembang termasuk Indonesia. Dimana krisis ekonomi telah menyebabkan bertambahnya penduduk miskin, yang selanjutnya berdampak pada penurunan kualitas hidup penduduk Indonesia.Menurut Soegijokodalam lbnussalam (2003), kemiskinan merupakan kondisi dimana individu atau masyarakat tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya seperti sandang, perumahan, pangan, pendidikan, kesehatan dan lain-lain. Artinya kemiskinan tersebut merupakan masalah mendasar atau mendesak yang harus ditangani secara terpadu, terintegrasidan terencana dalam konteks pembangunan nasional dan daerah.
Dalam konteks penanggulangan kemiskinan di Indonesia, berbagai program dan kebijakan pemerintah telah dilaksanakan antara lain melalui pemberian kredit murah, program pembangunan infrastruktur dasar dan berbagai program pengembangan kelembagaan pembangunan seperti Pengembangan Kawasan Terpadu (PKT), Program Peningkatan Pendapatan Petani Kecil (P4K),  Program Pengembangan Wilayah (PPW) dan lain-lain (Nugroho dalam Dewanta, 1995).Mulai tahun 2006, Pemerintah telah memiliki konsep penanggulangan kemiskinan secara terpadu dengan basis pemberdayaan masyarakat yaitu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri dengan tujuan meningkatkan keberdayaan dan kemandirian masyarakat.
Program pengentasan kemiskinan (Poverty alleviating program) yang  telah dilaksanakan pemerintah tersebut diatas belum memberikan hasil optimal, yang ditandai dengan masih banyaknya jumlah penduduk miskin di Indonesia.  Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2011 menunjukkan bahwa penduduk miskin Indonesia mencapai 29.890.140  jiwa atau sekitar 12,36 % dari jumlah penduduk Indonesia.



Jumlah penduduk miskin di Propinsi Bengkulu berdasarkan Data Biro Pusat Statistik tahun 2012 tersaji pada tabel 1.1.
Tabel 1.1.Data Jumlah Penduduk miskin di Propinsi Bengkulu

Propinsi    2002    2003    2004    2005    2006    2007    2008    2009    2010      
Bengkulu Selatan    91.032    107.501    112.890    138.164    148.927    152.335    178.157    210.781    238.642      
Rejang Lebong    90.321    106.722    114.776    141.176    165.007    172.551    238.072    239.407    271.051      
Bengkulu Utara    96.107    113.049    124.072    151.742    166.935    171.744    177.042    207.952    235.439      
Kaur    1)    108.696    115.145    103.886    137.793    148.526    159.641    189.746    214.826      
Seluma    1)    109.673    115.171    154.215    177.209    184.488    210.229    216.250    244.833      
Muko-Muko    2)    116.475    125.169    141.666    166.740    174.677    183.293    215.021    243.442      
Lebong    3)    3)    3)    121.613    147.002    155.040    173.299    197.915    224.075      
Kepahyang    3)    3)    3)    121.455    153.050    163.052    176.807    203.162    230.015      
Bengkulu Tengah    4)    4)    4)    4)    4)    4)    4)    4)    246.771      
Kota Bengkulu    108.481    123.870    133.048    160.711    185.651    193.546    257.536    325.600    368.637      
Bengkulu    101.437    110.975    115.569    128.541    160.641    170.802    202.428    231.990    225.857   
Sumber : Data dan Informasi Kemiskinan, BPS (2011)
Tergabung dalam Kabupaten Bengkulu Selatan
Tergabung dalam Kabupaten Bengkulu Utara
Tergabung dalam Kabupaten Rejang Lebong
Tergabung dalam Kabupaten Bengkulu Utara

Pada tataran Kabupaten Rejang Lebong, berbagai kebijakan yang ditujukan untuk pengentasan kemiskinan dan mensejahterakan masyarakat telah dilakukan.Kebijakan yang diimplementasikan tidak dapat lepas dari kebijakan Pemerintah Pusat.  Kebijakan tersebut antara lain : pemberdayaan masyarakat melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), PPK (Program Pengembangan Kecamatan) yang dilaksanakan Departemen Dalam Negeri, P2KP (Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan) yang dilaksanakan Departemen Pekerjaan Umum, P4K (Proyek Peningkatan Pendapatan Petani dan Nelayan Kecil) yang dilaksanakan Departemen Pertanian, PEMP (Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir) yang dilaksanakan Departemen Kelautan dan Perikanan, KUBE (Kelompok Usaha Bersama) yang dilaksanakan Departemen Sosial, dan lain-lain.
Kabupaten Rejang Lebong dengan luas wilayah 1.515,766 km2 dengan  jumlah penduduk 246.787 jiwa yang terbagi menjadi 63.617 Kepala Keluarga dan tersebar di 15 kecamatan. Data BPS (2011-2012) juga menginformasikan jumlah keluarga miskin terbanyak, yakni 5.439 Kepala Keluarga atau 13,60 %,  yang terbagi menjadi  keluarga pra sejahtera sebanyak 506KK,  keluarga sejahtera Isebanyak 1.424KK dan Keluarga Sejahtera II sebanyak 3.409KKdan mayoritas petani (Rejang Lebong dalam Angka(BPS), 2011-2012) dengan sebaran keluarga pra sejahtera Kabupaten Rejang Lebong seperti terlihat pada tabel 1.2.
Tabel 1.2.    Data Sebaran Keluarga Pra Sejahtera menurut Kecamatan
di Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2010


Kecamatan    Keluarga Pra Sejahtera    Jumlah      
     Pra Sejahtera    Sejahtera I    Sejahtera II           
Curup    549    505    2.552    3.606      
Curup Timur    80    107    526    713      
Curup Utara    206    859    891    1.956      
Curup Tengah    255    1.157    2.345    3.757      
Curup selatan    649    1.309    1.968    3.926      
Bermani Ulu    432    884    1.484    2.800      
Bermani Ulu Raya    152    636    1.210    1.998      
Selupu Rejang    384    1.201    3.854    5.439      
Sindang Dataran    54    190    554    798      
Sindang Kelingi    585    672    1.110    2.367      
Padang Ulak Tanding    1.638    1.548    1.119    4.305      
Sindg Beliti Ulu    822    1.323    1.455    3.600      
Sindang beliti Ilir    71    276    312    659      
Binduriang    104    357    416    877      
Kota Padang    2.148    834    213    3.195      
Jumlah    8.129    11.858    20.009    39.996   
Sumber : Rejang Lebong Dalam Angka (BPS Th. 2011-2012)
Ada beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kemiskinan di pedesaan, salah satunya adalah standar garis kemiskinan Sayogyo (1973).Indikator Kemiskinan menurut Sayogyo diukur berdasarkan pendapatan perkapita pertahun yang dikonversikan dengan beras.Selanjutnya tingkat kemiskinan dikelompokkan dalam tiga golongan pendapatan, yaitu : (1) pendapatan/individu/tahun kurang dari 180 kg setara beras dikategorikan paling miskin, (2) pendapatan/individu/tahun antara  180 – 240  kg setara beras dikategorikan miskin sekali, (3) pendapatan/individu/tahun 240 - 320 kg setara beras dikategorikan miskin.
Dari hasil kajian literatur, pengukuran kemiskinan dengan menggunakan indikator Sayogyo telah banyak dilakukan seperti penelitian Ginting (2004), Analisis Faktor Penyebab Pendapatan Petani Miskin di Kecamatan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang, namun demikian penelitian-penelitian atau kajian inibelumada yang dilakukan di Kabupaten Rejang Lebong, oleh sebab itu kajian tentang kemiskinan dengan menggunakan ukuran kemiskinan Sayogyo menjadi menarik untuk dilakukan.  Hal ini penting untuk mengetahui distribusi penduduk miskin di Kabupaten Rejang Lebong.Tidak kalah pentingnya adalah masalah penyebab terjadinya kemiskinan.
Berdasarkan diskusi diatas, maka perlu dilakukan penelitian tentang Sebaran, Probabilitas dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemiskinan: Kasus pada Petani di Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong yang diduga kondisi kemiskinan rumah tangga dipengaruhi oleh faktor penguasaan lahan, tingkat pendidikan,akses terhadap lembagaekonomi, jumlah tanggungan keluarga,keberadaan alternatif usaha dan status kepemilikan lahan.

1.2.  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan masalah pada penelitian ini adalah:
Mengukur tingkat kemiskinan petani berdasarkan ukuran garis kemiskinan sayogyo dengan mengkonversikan pendapatan petani ke dalam ukuran setara dengan beras yang dihitung dalam satuan kilogram.
Faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi probabilitas keluarga menjadi miskin.
Mengukur distribusi/sebaran kemiskinan menggunakan indek gini ratio.

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah penelitian diatas, maka yang menjadi tujuan penelitian ini adalah:
Untuk mengetahuitingkat kemiskinan petani berdasarkan ukuran garis kemiskinan sayogyo dengan mengkonversikan pendapatan petani ke dalam ukuran setara dengan beras yang dihitung dalam satuan kilogram.
Untuk mengetahui faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi probabilitas keluarga menjadi miskin.
Untuk mengetahui distribusi/sebaran kemiskinan menggunakan indek gini ratio.


1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
Sebagai bahan masukan bagi Pemerintah Kabupten Rejang Lebong dalam pelaksanaan program pengentasan kemiskinan (povertyalleviating program).
Sebagai bahan masukan penelitian lanjutan bidang kemiskinan, khususnya daerah dengan kondisi alam yang berbeda seperti daerah perkotaan dan pantai.
Sebagai bahan informasi bagi petani di Kabupaten Rejang Lebong untuk dapat melakukan upaya-upaya dalam meningkatkan tingkat pendapatan keluarganya pada masa mendatang.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah sebagai berikut :
Kemiskinan adalah suatu kondisi ketidakmampuan seseorang ataumasyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sesuai dengan standar  yangberlaku.  Kriteria yang digunakan untuk status miskin rumah tangga adalah standar garis kemiskinan Sayogyo (dalam Prisma, 1977),  yaitu pendapatanperkapita setara dengan 320 kg beras. Tingkat harga beras yang digunakan adalah hasil survei harga rata-rata 9 bahan pokok di Kabupaten Rejang Lebong yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Rejang Lebong yaitu Rp.6.250/kg.Berdasarkan standarharga rata-rata beras tersebut,  maka batas gariskemiskinan adalah Rp. 2.000.000,-.
Pendapatan perkapita adalah pendapatan total rumah tangga dalam setahundibagi dengan  jumlah anggota rumah tangga. Pendapatan ini kemudiandikonversikan ke dalam ukuran setara dengan beras yang dihitung dalamsatuan kilogram. Pengukuran tingkat pendapatan ini menggunakan gariskemiskinan Sayogyo (dalam Prayitno dan Arsyad, 1987) yang dikelompokkandalam tiga golongan pendapatan yaitu :
Paling miskin yaitu pendapatan/individu/tahun dalam rumah tanggakurang dan 180 kg setara beras atau kurang dari Rp. 1.350.000,-.
Miskin sekali yaitu pendapatan/individu/tahun dalam rumah tangga antara180-240 kg setara beras atau antara Rp. 1.170.000,-– Rp. 1.560.000,-.
Miskin yaitu pendapatan/individu/tahun dalarn rumah tangga antara 240-320 kg setara beras atau antara Rp.1.560.000,-– Rp.2.000.000,-.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.    Definisi Kemiskinan
Defenisi baku tentang kemiskinan hingga saat ini belum ada, karena luas dan dinamisnya isu kemiskinan tersebut. Dalam melakukan penelitian kemiskinan umumnya peneliti menentukan pendekaan tertentu yang merupakan defenisi operasioanal dalam melakukan penelitian tentang kemiskinan.Menurut Molo (1995) bahwa pendekatan kemiskinan tersebut dipengaruhi oleh ruang lingkup (dimensi) yang hendak dicakup oleh konsep kemiskinan itu sendiri.Hal ini dipertegas oleh Amarya Sen (1981) bahwa prasyarat pertama dalam konsep kemiskinan adalah penentuan kriteria tentang siapa atau kelompok sosial mana yang harus menjadi fokus perhatian dalam melakukan penelitian, khususnya bagi pemerintah dalam melakukan program pengentasan kemiskinan.Menurut Trijono dalam Suyanto (1995) menyatakan bahwa membahas masalah kemiskinan harus jelas tolok ukurnya sehingga dapat dilihat implikasinya terhadap penggunanya. Karena jika berbeda tolok ukur yang dipakai maka akan berbeda pula hasil kemiskinan yang akan diteliti/diamati.
Ada beberapa definisi miskin dengan menggunakan pendekatan biologis dan pendekatan kebutuhan dasar (basic needs).Menurut Rowntree dalam Molo (1995) yang menggunakan pendekatan biologis, bahwa suatu keluarga termasuk dalam kondisi kemiskinan primer (absolut) yakni apabila pendapatan total keluarga tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan minimum untuk kelangsungan hidup. Penekanan pendekatan ini adalah masalah kelaparan yang merupakan masalah yang sering muncul pada penduduk dunia.Kemudian Sayogyo dalam Singarimbun (1978), menyatakan bahwa kemiskinan merupakan suatu tingkat kehidupan di bawah standar minimum yang ditetapkan berdasarkan kebutuhan pokok pangan yang membuat orang bisa bekerja dan hidup sehat berdasarkan kebutuhan beras dan kebutuhan gizi.
Disamping itu kemiskinan dapat didekati dengan basic needs (kebutuhan dasar). Menurut pendekatan ini,keluarga/rumah tangga dikategorikan miskin adalah jika individu/rumah tangga tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar.Kebutuhan dasar yang dimaksud mencakup sandang, pangan dan papan dengan kondisi kebutuhan minimum.Pada pendekatan ini juga ada kebutuhan yang harus terpenuhi yaitu transportasi umum, fasilitas pendidikan, kesehatan, air bersih, sanitasi, dan lain-lain (International Labour Force, 1976 dalam lbnussalam, 2002).
Pendekatan lainnya adalah pendekatan yang menekankan pada masalah ketimpangan. Pendekatan ini berorientasi pada upaya mengurangi perbedaan antara kelompok yang berada di bawah poverty line (garis kemiskinan) dengan kelompok yang kaya (better of) dalam setiap dimensi stratifikasi dan perbedaan sosial (Molo,1995).
2.2.    Kategori Kemiskinan
Berdasarkan berbagai pendekatan di atas, maka kemiskinan dapat dikelompokkan menjadi kemiskinan absolut dan relatif.Kemiskinan absolut adalah kondisi dimana seseorang atau masyarakat tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan pokoknya seperti sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan.Sedangkan kemiskinan relatif tidak hanya pada pemenuhan kebutuhan pokok saja, oleh karena itu ukurannya berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.
2.2.1.    Kemiskinan Absolut
Kemiskinan absolut didasarkan pada tingkat pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang diukur dari garis kemiskinan.Untuk menentukan jumlah penduduk miskin, maka ditentukan terlebih dahulu garis kemiskinan, yang ditentukan dengan tingkat pendapatan perkapita perbulan atau pertahun.Bank Dunia telah menentukan tingkat pendapatan perkapita terendah untuk garis kemiskinan adalah $ 75 untuk daerah perkotaan dan $ 50 untuk daerah pedesaan (Rusli, 1995).Sedangkan BPS (Dewanta, 1995) menentukan garis kemiskinan adalah kebutuhan sebanyak 2.100 kalori per orang per hari.
Sedangkan Sayogyo menggolongkan tingkat kemiskinan menjadi tiga, yaitu paling miskin, miskin sekali dan miskin.  Untuk daerah perkotaan, paling rniskin adalah penduduk yang mempunyai pendapatan perkapita pertahun setara dengan 240 kg beras, golongan miskin sekali pendapatan perkapita antara 240-360 kg, golongan miskin perdapatannya lebih dari 480 kg beras perkapia pertahun. Sedangkan di daerah pedesaan, pendapatan perkapita pertahun golongan paling miskin, miskin sekali dan miskin masing-masing adalah kurang dari 180 kg, 180-240 kg, dan 240-320 kg beras Sayogyo dalam Quibria (1996), dalam Amar (1999).



2.2.2.    Kemiskinan Relatif
Pengukuran kemiskinan relatif didasarkan pada perbandingan pendapatan antara kelompok masyarakat dengan pendapatan rendah terhadap kelompok masyarakat dengan tingkat pendapatan tinggi. Artinya, sebenarnya kelompok tersebut tidak miskin secara absolut, tetapi lebih miskin dibandingkan kelompok masyarakat lain yang kaya atau makmur. Kemiskinan ini dikatakan relatif karena berkaitan dengan distribusi pendapatan nasional yang diterima antara lapisan sosial dalam masyarakat (Nugroho, 1995).
Menurut Djojohadikusumo dalam lbnussalam (2002), kemiskinan relatif dinyatakan dengan berapa persen pendapatan nasional yang diterima kelompok masyarakat dengan pendapatan tertentu dibandingkan dengan proporsi pendapatan nasional yang diterima oleh kelompok masyarakat lainnya. Dimana perhitungan tersebut dikelompokkan menjadi tiga tingkatan, yaitu:
Pertama, jika 40% jumlah penduduk dengan pendapatann terendah kurang dari 12% dari pendapan nasional maka disebut terjadi kepincangan menyolok,
Kedua, jika 40% jurnlah penduduk dengan pendapatan terendah menerima antara 12-17% dari pendapatan nasional maka disebut kepincangan sedang.
Ketiga jika 40% jumlah penduduk dengan pendapatan terendah menerima lebih dari 17% dari pendapatan nasional maka disebut kepincangan lunak.

2.3.    Ciri-ciri Kemiskinan
Ciri-ciri rumah tangga miskin di Indonesia pernah dikaji oleh Tjiptoherijanto dalam lbnussalam (2002) dengan menggunakan data hasil Susenas tahun 1978. Hasil penelitian tersebut mengemukakan bahwa rumah tangga miskin pada umumnya adalah mempunyai jumlah anggota rumah tangga yang banyak, kepala rumah tangganya merupakan pekerja rumah tangga, tingkat pendidikan kepala rumah tangga maupun anggotanya rendah, sering berubah pekerjaan, sebagian besar mereka yang telah bekerja tetapi masih menerima tambahan pekerjaan bila ditawarkan dan sebagian besar sumber pendapatan utamanya dari sektor pertanian.
Kemudian menurut Myrdal dalam lbnussalam (2002)  ciri-ciri kemiskinan, yaitu ;
Umumnya memiliki tingkat pendapatan yang rendah. Faktor produksi yang dimiliki sangat terbatas sehingga kemampuan untuk meningkatkan pendapatan sangat terbatas.
Umumnya tidak mempunyai kemungkinan untuk memperoleh aset produksi dengan kekuatan sendiri.  Pendapatan yang diperolehnya tidak cukup untuk menggarap lahan atau modal usaha,  juga tidak memiliki syarat untuk memperoleh kredit dari bank seperti jaminan kredit dan lain-lainnya.
Tingkat pendidikan rendah, umumnya hanya tamat SD dan bahkan ada yang tidak sampai tamat SD. Alokasi waktu lebih banyak tersita untuk mencari nafkah sehingga waktu yang tersedia untuk belajar sangat terbatas.
Banyak yang tidak memiliki lahan, kalaupun ada relatif kecil (kurang dari 0,5 ha). Umumnya bekerja sebagai buruh tani dan pekerja kasar.
2.4.    Faktor-faktor Penyebab Kemiskinan
Kompleks dan multidimensionalnya masalah kemiskinan disebabkan oleh banyaknya faktor baik secara langsung maupun tidak langsung yang menyebabkan individu atau masyarakat menjadi miskin.Menurut Hadiwigeno dan Pakpahan (Prisma 1993) kemiskinan itu dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti sumber daya alam, teknologi dan unsur pendukungnya, sumber daya manusia, sarana dan prasarana serta kelembagaan.
Selanjutnya, menurut Sayogyo dalam Singarimbun (1978) bahwa ada dua penyebab utama kemiskinan pedesaan di Indonesia yaitu adanya kegagalan pasar dan politik.Kegagalan pasar timbul karena: (l) daya beli penduduk pedesaan sangat rendah, upah dan pendapatan sangat kecil sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar; (2) terbatasnya kesempatan dan peluang berusaha di pedesaan; (3) keadaan prasarana yang tidak memadai untuk pengembangan produksi; (4) pola penguasaan tanah sebagai alat produksi vital (utarila) keadaannya timpang; (5) hambatan dalam pemasaran. Sedangkan kegagalan politik akibat struktur dan institusi ekonomi politik yang ada pada tingkat supra lokal (desa) mengalami distorsi dalam mempresentasikan kepentingan masyarakat desa.
 Dawam Rahardjo dalam Mustopadidjaja (1997) mengidentifikasi faktor - faktor kemiskinan di pedesaan, yaitu; (1) keterbatasan kesempatan kerja sehingga terjadi berbagai bentuk pengangguran (2) upah/gaji di bawah standar minimum; (3) produktivitas kerja sangat rendah lebih dari 60 % kejadian kemiskinan terjadi di sektor pertanian yang disebabkan oleh rendahnya produkfivitas; (4) ketiadaan aset, tidak memiliki aset atau tidak adanya kesempatan untuk memanfaatkannya.Kemudian menurut Soegijoko dalam lbnussalam (2002) bahwa timbulnya kemiskinan ini bagaikan lingkaran setan yang menyebabkan buruknya kondisi sosial ekonomi masyarakat, yang ditandai oleh standar hidup masyarakat yang rendah seperti pendapatan kecil dan tak menentu, perumahan yang tidak layak, tingkat pendidikan yang rendah, dan kondisi kesehatan yang rendah.
Faktor-faktor penyebab kemiskinan itu satu sisi dianggap sebagai akibat kemalasan, kebodohan, produktivitas rendah, kesehatan buruk, lingkungan kumuh dan lain-lain yang  terdapat pada diri manusia dan lokasi tempat tinggalnya yang dianggap sebagai mata rantai yang saling mempengaruhi proses terjadinya kemiskinan; dan di sisi lain ada juga anggapan sebagai penyebab ketidakadilan dan ketidakmerataan terhadap suatu kelompok masyarakat, sehingga mereka menjadi rniskin karena tidak dapat ikut serta menggunakan sumber-sumber mata pencaharian yang tersedia. Tatanan sosial, ekonomi, dan politik tidak memberikan jaminan kepada semua pihak untuk memiliki kesempatan yang sama dalam berkontribusi terhadap pembangunan dan meraih kesejahteraan.
Berdasarkan faktor-faktor penyebab kemiskinan diatas, selanjutnya Soegijoko dalam lbnussalam (2002) membedakan kemiskinan dalam tiga pengertian, yaitu;
 a.  Kemiskinan Alamiah
Kemiskinan alamiah timbul akibat sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya pembangunan lainnya langka jumlah dan atau karena perkembangan teknologi yang sangat rendah sehingga mereka tidak dapat berperan aktif dalam pembangunan.
b.Kemiskinan Struktural
Kemiskinan struktural timbul akibat hasil pembangunan yang tidak merata.Kepemilikan sumberdaya yang tidak merata, kemampuan tidak seirnbang, ketidaksamaan kesempatan menyebabkan keikutsertaan masyarakat dalam pembangunan tidak merata.
c. Kemiskinan Kultural
Kemiskinan Kultural ini timbul akibat dari pencarian suatu sikap, kebiasaan hidup dan budaya seseorang atau masyarakat yang merasa berkecukupan dan tidak rnerasa kekurangan.Kelompok ini tidak mudah diajak untuk berpartisipasi dalam pembangunan dan cenderung tidak mau berusaha rnemperbaiki tingkat kehidupannya.Dengan ukuran absolut mereka rniskin, tetapi mereka tidak merasa miskin dan tidak mau dikatakan rniskin.


Dari berbagai pendapat diatas yang mengulas tentang penyebab timbulnya kemiskinan, dapat disimpulkan bahwa pendapat tersebut memiliki pandangan yang hampir sama yakni faktor-faktor penyebab kemiskinan itu dapat dipandang sebagai akibat dan juga dapat dipandang sebagai sebab timbulnya kemiskinan. Lingkaran kemiskinan, yaitu kemiskinan sebagai sebab dan akibat, menurut Uphoff dan Rasahan (1992) terjadi karena adanya faktor - faktor yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya.Lingkaran kemiskinan tersebut berawal dari rendahnya sumberdaya alam, yaitu kondisi geografis dan geologis daerah dan rendahnya sumberdaya manusia yaitu tingkat pendidikan dan kesehatan.Kurang baiknya kondisi sumberdaya alam (geografis dan geologis) rnenyebabkan diversifikasi pertanian dan pengembangan wilayah kurang optimal dilakukan, selanjutnya kedua hal tersebut mempengaruhi tingkat pendapatan masyarakat kemudian menjadikan mereka miskin. Kemiskinan tersebut selanjutnya menyebabkan rendahnya sumberdaya manusia yang ditandai dengan rendahnya tingkat pendidikan, kesehatan masyarakat dan pengembangan wilayah  pedesaan. Selanjutnya rendahnya pengembangan wilayah pedesaan secara langsung juga rnenyebabkan kemiskinan.

2.5. Hasil Penelitian Terdahulu

No.    PENULIS    TUJUAN    DATA & ANALISIS    HASIL PENELITIAN      
1    2    3    4    5      
1.    Ibrahim, dkk (2009)    a.    Mengidentifikasi kondisi kemiskinan di tiap-tiap kabupaten/Kota di wilayah Jawa Timur.
b.Menganalisis penyebab kemiskinan di tiap-tiap kabupaten/Kota di wilayah Jawa Timur.
c.    Menganalisis kondisi kesejahteraan petani di Jawa Timur.
    a. 1).Data Primer (instrument kuisioner, observasi dan wawancara);
    2).Data Sekunder (Dokumentasi kondisi kemiskinan dari instansi terkait)
b.    Alat analisis yang digunakan :
    1). Indek Daya Beli (IDB) ;
    2). Nilai Tukar Petani (NTP).    Penyebab kemiskinan absolut disebabkan oleh factor keturunan, jumlah tanggungan keluarga dan pendapatan rendah.
Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur cenderung fluktuatif.  Terendah  pada bulan Mei, sedangkan NTP tertinggi terjadi pada bulan Oktober.      
1    2    3    4    5      
2.    Satriawan&
Oktavianti
(2012)    a. Menganalisis berbagai penyebab kemiskinan pada petani.
b. Melalui studi ini akan akan diketahui berbagaimana system kelembagaan pertanian yang berlangsung selama ini.    a. Data Primer dan Sekunder, meliputi : wawancara, Kuisioner, Study lapang, Study dokumentasi, Survey/Observasi, Focus group discuss   dan community group interview.
    a.Permasalahan mendasar yang menjadi penyebab kemiskinan petani antara lain : akses input pertanian terbatas, imperfect information, ketersediaan teknologi terbatas, pengetahuan dan skill rendah, keterbatasan modal, moral hazard, ketidakstabilan harga,  high transaction cost, managemen organisasi buruk.
      
            b. Metode Analisis Yang dipergunakan adalah Analisis ZOPP (Zielorientierte Project Planung)yang meliputi beberapa langkah :
a) Analisis Partisipatif
b) Analisis Masalah
c) Analisis Tujuan
d)Analisis alternative dan Penentuan Prioritas    b.Tindakan kolektif melalui implementasi kebijakan antara lain : program penciptaan pasar bagi petani, pembentukan KUT/Gapoktan,pendampingan KUT/Gapoktan, program pengadaan lahan percontohan di masing-masing desa.
      
3.    Hasanuddin
Dkk (2009)    a.    Mengidentifikasi tingkat dan penyebab kemiskinan petani hortikultura serta pola perilaku ekonomi petani dalam menghadapi kemiskinan.
b.Mengkaji kinerja usaha ekonomi, lembaga keuangan dan lembaga social petani hortikultura.
    a. 1).Data Primer (wawancara mendalam dan diskusi kelompok fokus);
   
b.    Alat analisis yang digunakan :
    1). Analisis kualitatif ;
    2).Analisis SWOT
    Petani hortikultura masih miskin karena lahan sempit dan keterbatasan modal.
Sumberdaya manusia petani hortikultura masih rendah dan pola hidup petani hortikultura bersifat konsumtif.
Petani mengantisipasi kemiskinan dengan diversifikasi.



      
1    2    3    4    5      
        c.    Merumuskan model pemberdayaan petani hortikultura.        Model pemberdayaan untuk petani adalah peningkatan pengetahuan & ketrampilan petani, kemudahan permodalan, pembentukan lembaga pemasaran oleh pemerintah, pendampingan dan perubahan pola hidup dan sikap petani.
      
4    Ginting (2004)    a.    Untuk mengetahui apakah luas penguasaan lahan, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, aksesibilitas terhadap lembaga keuangan dan keberadaan alternatif usaha berpengaruh terhadap pendapatan petani.
b.Untuk mengetahui apakah ada pengaruh perbedaan luas lahan dan status lahan terhadap pendapatan petani.
    a. 1).Data Primer (wawancara, kuesioner);
   
b.    Alat analisis yang digunakan :
    Analisis Regresi berganda, Chi-square dan Gini Ratio.
        kemiskinan dipengaruhi oleh  faktor yang saling terkait satu dengan lainnya, seperti; (l) luas penguasaan lahan, (2) tingkat pendidikan; (3) jumlah tanggungan keluarga; (4) akses terhadap lembaga keuangan; dan (5) alternatif usaha. Faktor utama yang menentukan tingkat pendapatanadalah luas tanah yang digarap oleh rumah tangga petani.
   



Isu kemiskinan merupakan masalah penting dalam pembangunan di Indonesia. Beberapa program pemerintah belum mampu mengatasi kemiskinan sehingga perlu dirumuskan model pemberdayaan masyarakat miskin yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.Pemahaman kemiskinan secara konvensional umumnya diartikan sebagai kondisi masyarakat yang berada dibawah satu garis kemiskinan tertentu.
Dari hasil penelitian sebelumnya dapat disimpulkan sebagai berikut :
Ada beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur kemiskinan petani yaitu Nilai Tukar Petani (NTP). Indikator ini digunakan oleh Ibrahim dkk (2009).  Ibrahim dkk menemukan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur cenderung fluktuatif, terendah biasanya terjadi pada bulan Mei yang disebabkan turunnya indeks harga tanaman bahan makanan dan indeks harga peternakan, sedangkan NTP tertinggi terjadi pada bulan Oktober yang disebabkan naiknya indeks harga semua sub sektor pertanian.
Faktor-faktor yang menjadi penyebab kemiskinan dari beberapa penelitian sebelumnya antara lain penelitian yang dilakukan oleh Ibrahim dkk (2009) yang mengemukakan bahwa penyebab rumah tangga miskin di wilayah Jawa Timur lebih banyak disebabkan karena faktor absolut atau kemiskinan absolut yang disebabkan oleh faktor keturunan, jumlah tanggungan keluarga dan pendapatan rendah.  Menurut Satriawan dan Oktavianti (2012) mengemukakan bahwa permasalahan mendasar yang menjadi penyebab kemiskinan petani antara lain : akses input pertanian terbatas, imperfect information, ketersediaan teknologi terbatas, pengetahuan dan skill rendah, keterbatasan modal, moral hazard, ketidakstabilan harga, petani sebagai price taker, high transaction cost, managemen organisasi buruk dan banyaknya tengkulak/pengepul sebagai price maker. Selanjutnya Ginting (2004) mengemukakan kemiskinan dipengaruhi oleh  faktor yang saling terkait satu dengan lainnya, seperti; (l) luas penguasaan lahan, (2) tingkat pendidikan; (3) jumlah tanggungan keluarga; (4) akses terhadap lembaga keuangan; dan (5) alternatif usaha. Faktor utama yang menentukan tingkat pendapatan adalah luas tanah yang digarap oleh rumah tangga petani.
Tindakan yang perlu diambil dalam upaya pengentasan kemiskinan adalah Tindakan kolektif melalui implementasi kebijakan antara lain: program penciptaan pasar bagi petani, pembentukan KUT/Gapoktan, pendampingan KUT/Gapoktan melalui pelatihan manajemen organisasi dan kemampuan menjalankan fungsi eksternal (networking) dan program pengadaan lahan percontohan di masing-masing desa (Satriawan dan Oktavianti, 2012). Selain itu  Hasanuddin dkk (2009), menarik kesimpulan dalam penelitiannya bahwa petani mengantisipasi kemiskinan dengan diversifikasi pekerjaan dan menjalin hubungan baik dengan sesama, lembaga ekonomi.Dengan model pemberdayaan untuk petani adalah peningkatan pengetahuan & ketrampilan petani, kemudahan permodalan, pembentukan lembaga pemasaran oleh pemerintah, pendampingan dan perubahan pola hidup dan sikap petani.
Beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya bahwa ada beberapa penyebab kemiskinan petanikarena faktor absolut atau kemiskinan absolut yang disebabkan oleh faktor keturunan, jumlah tanggungan keluarga dan pendapatan rendah, luas penguasaan lahan, tingkat pendidikan, akses terhadap lembaga keuangan dan alternatif usaha.Bertolak dari hal itu pertanyaannya apakah faktor-faktor diatas juga menjadi penyebab kemiskinan di Kabupaten Rejang Lebong.

2.6. Kerangka Pemikiran
Dari berbagai penelitian rnenunjukkan bahwa penyebab kemiskinan, khususnya daerah pedesaan adalah tingkat pendidikan dan penguasaan lahan (Arsyad dan Prayitno, 1987),  begitu juga ada hubungan signifikan (nyata) antara kemiskinan di pedesaan dengan pengelolaan lahan.  Berdasarkan hasil penelitian tersebut diatas bahwa kemiskinan pedesaan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan kepala keluarga, penguasaan atas luas lahan, serta kondisi alam (lahan pertanian), akses terhadap lembaga keuangan yang masih dikuasai oleh pihak luar petani, akses input pertanian terbatas, imperfect information, ketersediaan teknologi terbatas, pengetahuan dan skill rendah, keterbatasan modal, moral hazard, ketidakstabilan harga, petani sebagai price taker, high transaction cost, managemen organisasi buruk dan banyaknya tengkulak/pengepul sebagai price maker.
Dari uraian diatas dapat digambarkan dalam kerangka berfikir bahwa sebagian besar penduduk Indonesia tinggal di daerah pedesaan dan sebagian besar daripadanya tergantung pada sektor pertanian. Tingkat produksi usaha pertanian sangat tergantung pada luas lahan, akses input pertanian terbatas, imperfect information, ketersediaan teknologi terbatas, pengetahuan dan skill rendah,tingkat pendidikan kepala rumah tangga, akses terhadap lembaga keuangan, jumlah tanggungan keluarga dan keberadaan alternatif usaha.  Ketersediaan faktor produksi ini  menentukan tingkat produksi dan tingkat produksi yang tinggi mencerminkan tingkat pendapatan yang tinggi. Tingkat pendapatan seseorang sangat menentukan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan apabila kebutuhan hidupnya tidak terpenuhi (berdasarkan ukuran Sayogyo yaitu setara 320 kg/kapita/tahun), maka dikatakan miskin.Sedangkan jika tingkat pendapatan seseorang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dikatakan tidak miskin.
Beberapa penyebab kemiskinan petani di pedesaan yang ingin diteliti adalah pengaruh beberapa faktor, yaitu
(1) luas lahan,
(2) tingkat pendidikan kepala rumah tangga,
(3) akses terhadap lembaga keuangan,
(4) jumlah tanggungan keluarga,
(5) keberadaan alternatif usaha dan
(6) Status Kepemilikan Lahan. 
Faktor-faktor di atas menentukan tingkat kemiskinan petani/tingkat kemiskinan usaha tani.

2.7.    Hipotesis Penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah dan tujuan penelitian, maka yang menjadi hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut :
l)    Luas penguasaan lahan, tingkat pendidikan kepala keluarga,  akses terhadap lembaga keuangan jumlah tanggungan keluarga dan keberadaan usaha alternatif keluarga berpengaruh terhadap tingkat pandapatan petani.
2)    Ada pengaruh perbedaan luas penguasaan lahan terhadap tingkat pendapatan petani atau kemiskinan.





III. METODE PENELITIAN

3.1.    Pendekatan dan Tahapan Penelitian
Berangkat dari tujuan penelitian, maka akan digunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif dipergunakan untuk mendapatkan rumusan subjektif-induktif atas faktor-faktor penyebab kemiskinan, yaitu : luas lahan, tingkat pendidikan kepala keluarga, akses terhadap lembaga keuangan, jumlah tanggungan keluarga, keberadaan alternatif usaha dan status kepemilikan lahan.  Sedangkan pendekatan kuantitatif dipergunakan untuk mendapatkan gambaran statistik dan menggeneralisasi (objektif-deduktif) pada tingkatan populasi atas konsep-konsep kemiskinan.
Upaya menggabungkan kedua pendekatan penelitian di sini sesuai dengan tujuan penelitian, yakni untuk mendapatkan indikator kemiskinan yang memadukan unsur-unsur sosial budaya masyarakat setempat. Setelah formulasi konsep kemiskinan setempat berhasil dikategorikan, langkah berikutnya adalah menurunkan konsep kunci tersebut ke dalam peubah-peubah yang lebih konkret dan berpotensi untuk dilakukan pengukuran. Sekali lagi, pada tahap ini tetap memperhatikan konteks struktur sosial dan pengetahuan lokal masyarakat setempat. Teknik yang ditempuh adalah dengan mengkonfirmasi ulang katagori peubah kepada masyarakat setempat sehingga diperoleh suatu dimensi dan indikator yang memenuhi prinsip keterandalan, validitas, dan terpercaya.
Penggunaan pendekatan penelitian kualitatif dan kuantitatif di atas sejalan dengan tahapan penelitian dan penggunaan metode penelitian yang mengarah pada tujuan penelitian sebagaimana Tabel di bawah ini.

No    Tahapan Kegiatan    Luaran    Metode      
1    Menginventarisasi isu-isu kemiskinan    Mendapatkan gambaran masalah yang berkaitan dengan kemiskinan.    RRA
FGD
Wawancara mendalam      
2    Memahami konteks kemiskinan dan penyebabnya    Mendapatkan pola hubungan faktor-faktor penyebab terjadinya kemiskinan    Wawancara mendalam
Pengamatan      
3    Melakukan studi kasus rumah tangga    Mendapatkan contoh-contoh keadaan dan kondisi kemiskinan    Studi kasus
Pengamatan
Wawancara mendalam      
4    Formulasi konsep kemiskinan    Mendapatkan konsep, dimensi, dan peubah spesifik lokasi.    FGD
Wawancara mendalam      
5    Survei rumah tangga    Mendapatkan generalisasi keadaan kemiskinan    Wawancara terstruktur   

3.2.    Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder.  Data primer diperoleh langsung dari responden dengan cara wawancara dengan menggunakan kuisioner yang telah dipersiapkan.  Sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi terkait, seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Kantor Kecamatan Sindang Dataran, Kabupaten Rejang Lebong dan Kantor Lurah/Desa di Sindang Dataran.

3.3.    Teknik Pengambilan Data
Teknik pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara dengan responden dengan kuisioner yang telah disiapkan.  Yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah masyarakat/petani yang berkategori miskin.  Dari data yang ada di Kabupaten Rejang Lebong terdapat sebanyak 39.996 keluarga miskin yang diambil sebagai lokasi penelitian adalah sindang datara yaitu 798 keluarga miskin. (Rejang Lebong dalam Angka, BPS. 2011-2012).
3.4. Metode Penentuan Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Rejang Lebong yang ditentukan dengan metode povesible methode.  tahap pertanma menetukan lokasinya, yaitu desa Sindang Dataran, karena kondisi mkasyaraatanya masih sangat tertinggal didalam tingkat penghasilan jika dibanding dengan desa lainnya.  Pemilihan rumah tangga contoh dilakukan secara acak (random sampling). Dengan demikian diharapkan dapat memberikan informasi yang mewakili kondisi riil di daerah penelitian. Penelitian ini direncanakan pelaksanaannya pada bulan Agustus sampai dengan september 2014.

3.5.    Metode Penentuan Responden
Populasi adalah kelompok elemen yang lengkap, dimana peneliti tertarik untuk mempelajari atau menjadikannya sebagai objek penelitian (Kuncoro,2003). Populasi dari penelitian ini adalah petani miskin di Kelurahan Sindang Dataran kecamatan Sindang Dataran Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu.
Dalam penelitian ini populasi adalah jumlah petanimiskin yang terdapat Kelurahan Sindang Dataran kecamatan Sindang Dataran Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu sebanyak 244 keluarga (Sumber : Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, 2012).
Metode pengambilan sampel petani miskin dilakukan secara acak sederhana (Simple Random Sampling) dimana sampel yang diambil sedemikian rupa sehingga tiap unit penelitian atau satuan elemen dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel (Singarimbun dan Efendi, 2011). Penentuan jumlah sampel ditentukan dengan menggunakan rumus yang dikemukan oleh Nazir (1998), sebagai berikut :
    .............................................................3.1.                
Dimana :
N = Jumlah Petani Miskin yaitu 244 orang
δ2  = Varian Populasi
   .............................................................................................3.2.
B = Tingkat kesalahan yang dapat diterima
Dalam penelitian ini digunakan 5 %, sehingga nilai :



Nilai varian diperoleh dari dua langkah berikut, pertama menentukan jumlah sampel sementara sebanyak 20 petani miskin yang dipilih secara acak pada Kelurahan Sindang Dataran kecamatan Sindang Dataran Kabupaten Rejang Lebong dan dicatat umur responden. Selanjutnya dari 20 contoh petani miskin ini diestimasi nilai varian dari umur responden. Varian umur diestimasi dengan rumus (Nazir, 1988):
 .................................................................................... 3.3
Dari hasil estimasi diperoleh nilai varian sebesar 0,2875 sehingga jumlah sampel petani miskin yang dapat digunakan pada penelitian ini berjumlah 76 petani miskin di Kelurahan Kelurahan Sindang Dataran kecamatan Sindang Dataran Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu.

3.6. Teknik Analisa Data
Data-data dianalisis sesuai dengan jenis data yang dikumpulkan, yakni analisis kualitatif dan kuantitatif (deskriptif dan modeling probit binary).
3.6.1 Analisis Deskripsi (Descriptive)
Analisa deskriptif digunakan untuk menjelaskan data-data kuantitatif untuk menggambarkan sebaran nilai peubah kemiskinan yang diperoleh melalui survei pada level rumah tangga populasi. Dalam analisa deskriptif ini, sebaran data yang diperoleh disajikan dalam tabel frekuensi antar kategori (univariate frequency distribution) dan grafik. Dari tabel dan grafik ini akan diperoleh gambaran tentang sesuatu yang lazim atau unik dalam suatu masyarakat serta gambaran tentang variasi-variasi yang ada dalam masyarakat mengenai konsep-konsep kemiskinan.
3.6.2 Pengukuran Kemiskinan Rumah Tangga : Indikator Generik
Ada enam indikator kemiskinan generik yang digunakan dalam penelitian ini.  Indikator pertama adalah penguasaan lahan.  Pengukuran kemiskinan berdasarkan indikator ini dilakukan dengan menghitung pendapatan perkapita pertahun rumah tangga yang dikonversikan dengan beras sesuai ukuran kemiskinan Sayogyo (1973).  Dalam penelitian ini kemiskinan dipengaruhi oleh indikator-indikator seperti yang dilakukan Ginting (2004).  Indikator-indikator ini adalah (1) penguasaan luas lahan, (2) tingkat pendidikan, (3) jumlah tanggungan keluarga, (4) akses terhadap lembaga keuangan, (5) alternatif usaha dan (6) status kepemilikan lahan.
Adapun pengukuran faktor-faktor penyebab kemiskinan pada masyarakat Kabupaten Rejang Lebong yang akan diteliti adalah sebagai berikut :
a.     Penguasaan lahan/tanah adalah jumlah tanah sawah dan pekarangan yang dimiliki rumah tangga untuk digarap selama setahun yang dihitung dalam satuan hektar baik yang berasal dari milik sendiri,  sewa/bagi hasil yang dikelompokkan ke dalam dua kategori yang diukur sebagai variabel boneka (dummy) yaitu :
    - Jika lahan yang dikuasai adalah milik sendiri diberi skor 1
    - Jika lahan yang dikuasai adalah sewa/bagi hasil diberi skor 0
b.     Tingkat pendidikan adalah pendidikan formal tertinggi yang pernah diikuti oleh kepala keluarga. Variabel ini diukur dengan cara rnengelompokkan pendidikan ke dalam empat kategori yang terdiri dari :
- Tidak pernah sekolah, Tidak Tamat SD skor 0
- Tamat Sekolah Dasar skor 1
- Tamat SLTP skor 2
- Tamat SLTA ke atas skor 3
c.     Akses terhadap lembaga keuangan adalah kemampuan rumah tangga untuk memanfaatkan kelembagaan ekonomi  yang ada baik formal maupun non-formal, termasuk dalam hal ini adalah KUD, Bank, Perkreditan dan Kelompok Tani. Variabel akses terhadap lembaga keuangan ini diukur sebagai variabel boneka (dummy) yaitu :
- Jika ada akses terhadap lembaga ekonomi diberi skor 1
- Jika tidak ada akses terhadap lembaga ekonomi diberi skor 0
d.     Jumlah tanggungan keluarga adalah banyaknya individu yang ditanggung oleh keluarga sehari-hari.
e.     Keberadaan alternatif usaha adalah kegiatan ekonomi produktif di luar pertanian untuk menambah penghasilan rumah tangga. Variabel ini diukur dengan menggunakan variabel  boneka (dummy) yaitu :
- Jika ada alternatif usaha di luar pertanian diberi skor 1
- Jika tidak ada alternatif usaha di luar pertanian diberi skor 0
Untuk mengukur distribusi atau tingkat pemerataan pendapatan (kemiskinan) dan penguasaan lahan dalam penelitian ini dilakukan dengan pendekatan Gini Ratio.Gini Ratio merupakan ukuran tingkat pemerataan yang paling banyak digunakan oleh peneliti.Di Indonesia pendekatan tersebut telah lazim digunakan untuk mengukur berbagai bentuk pemerataan, terutama untuk mengukur pemerataan pendapatan (kemiskinan) dan penguasaan lahan.
Menurut Toto Sugito (1980), Gini Ratio dapat dihitung dengan menggunakan formula sebagai berikut :

Keterangan :
GR    =    Gini Ratio
Pi    =    Persentase rumah tangga pada kelas pendapatan ke-i
Qi    =    Persentase kumulatif pendapatan sampai dengan kelas ke-i
Qi+1    =    Persentase kumulatif pendapatan sampai dengan kelas ke-i+1
n    =    Jumlah kelas
1 dan 10.000 = konstanta

Jika distribusi merata sempurna (perfect equality), dimana proporsi jumlah penduduk akan sama dengan proporsi pendapatan (kemiskinan).  Menurut Asnawi dalam Amar (1999), bahwa Gini Ratio akan berada antara 0 sampai 1.  Jika Gini Ratio mendekati 0 artinya distribusi pendapatan relatif sangat merata, sementara jika Gini Ratio mendekati 1 menunjukkan bahwa distribusi pendapatan relatif sangat timpang.


Menurut Oshima dalam Amar (1999), Gini Ratio dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu :
Gini Ratio ≤ 0,30 sama dengan Merata
Gini Ratio >0,30 ≤ 0,40 sama dengan Sedang
Gini Ratio > 0,40 sama dengan Timpang
3.6.3 Analisis Data Kualitatif (Metode Fenomenologi)
Data-data kualitatif akan dianalisis dengan teknik analisis data kualitatif yang memadai untuk menemukan titik permasalahan, yakni dengan menerapkan metode fenomenologi. Pada prinsipnya analisis data kualitatif mengandalkan pada kemampuan peneliti selama di lapangan dalam mengindera, merasakan, mengolah, mencari keterkaitan dan keterhubungan antar berbagai fenomena yang ditemui di lapangan (Bungin, 2006). Proses analisis data dilakukan secara simultan dan siklikal dengan memposisikan diri pada empat sumbu, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan/verifikasi kesimpulan (Miles dan Huberman, 1992). Jadi analisis data sudah mulai dilakukan pada saat pengambilan data-data lapangan.
Cara utama yang akan digunakan untuk menganalisis data-data kualitatif adalah menginterpretasikan data dan informasi, menghubung-hubungkan antar informasi, serta mencari pola-pola antar peristiwa dalam domain topik yang sedang dikaji. Dalam hal ini, semua data dan informasi dikelompokkan ke dalam unit-unit konsep (domain) yang menjadi isu utama masalah kemiskinan. Dari sini akan dicoba untuk mengungkap pokok permasalahan menyangkut penguasaan luas lahan, tingkat pendidikan,  jumlah tanggungan keluarga,  akses terhadap lembaga keuangan,  alternatif usaha danstatus kepemilikan lahan. Semua deskripsi analitis dikemukakan dengan memperhatikan istilah-istilah bahasa yang dipergunakan masyarakat setempat, pendapat, dan contoh-contoh kejadian. Dengan demikian analisis kualitatif menjadi suatu uraian eksplanatif yang memadai (thick description). Untuk membantu pembahasan juga akan dipergunakan diagram dan gambar-gambar ilustratif.
3.6.4 Modeling Probabilitas Terjadinya Kemiskinan Rumah Tangga.
Untuk menggambarkan atau menjelaskan penampakan kemiskinan rumah tangga digunakan model probit binary. Model Probit Binary (a binary probit model) adalah suatu model yang sering digunakan dalam aplikasi ekonometrika di mana motivasi penggunaannya dimotivasi oleh kerangka variabel laten atau tidak terobservasi. Lebih lanjut, model ini digunakan pada variabel-variabel yang lebih banyak mempunyai dua nilai (binary atau variabel dummy), yakni 1 dan 0. Salandro dan Harrison (1997) serta O'Donnel, et al (1999) adalah dua peneliti yang mengaplikasikan model probit ini.
Dengan mengadopsi kerangka pemikiran O'Donnel et al (1999), maka kecenderungan terjadinya kemiskinan rumah tangga akan dianalisa berdasarkan atribut-atribut yang melekat pada rumah tangga yang menjadi subjek penelitian ini. Yang dimaksud dengan atribut-atribut rumah tangga disini adalah faktor-faktor penentu seperti penguasaan luas lahan, tingkat pendidikan,  jumlah tanggungan keluarga, akses terhadap lembaga keuangan, alternatif usaha danstatus kepemilikan lahan.
Secara umum, model probit binary dapat dijelaskan sebagai berikut. Misal Zi yang mengukur kerawanan pangan yang dihadapi oleh rumah tangga i yang diasumsikan sebagai variabel yang tidak terobservasi. Nilai Zi ini dipengaruhi oleh satu set variabel penjelas (atribut rumah tangga), sehingga dapat dituliskan sebagai berikut:
Zi = xi      i = 1,..., N                            (1)
dimana =(0, 1,..., K-1) adalah K -1 vektor dari parameter yang tidak terjelaskan yang akan diestimasi, xi adalah variabel penjelas (explanatory variable) yang mengukur atribut yang dimiliki oleh rumah tangga, seperti ratio ketergantungan, dan N adalah jumlah observasi.
Parameter =(0, 1,..., K-1) tidak dapat diestimasi dengan menggunakan teknik standar regresi linier karena variabel Zi tidak terobservasi. Tetapi, data yang terkumpul termasuk variabel Yiyaitu variabel yang hanya  mempunyai nilai 1 dan 0. Yi = 1 jika rumah tangga i tergolong miskin pada tahun yang lalu, sebaliknya jika Yi = 0. Sebagai catatan, pengukuran Yi didapatkan dari pengukuran kemiskinan seperti yang dimaksudkan pada tujuan pertama dan konseptualisasi dan definisi dari penelitian ini. Penggunaan nilai 1 dan 0 cukup beralasan dalam berekspetasi bahwa jika resiko yang dihadapi oleh rumah tangga i adalah tinggi (Zitinggi), maka rumah tangga yang dimaksud adalah miskin dalam satu tahun terakhir (Yi = 1). Dengan demikian ide ini dapat diformulasikan sebagai berikut:
1 jika Zi>vi
0 jika sebaliknya
Yi = {                                    (2)

dimana Viadalah tingkat awal random tak terobservasi. Dengan demikian, kemungkinan suatu rumah tangga akan mengalami kemiskinan dalam satu tahun terakhir adalah:
Pi    = p(Yi= 1)
= p(Zi> vi
= P(Vi<Zi)                                     (3)
= F(Zi)
= F(xi)
dimana F(x) adalah fungsi distribusi kumulatif (cumulative distribution function = cdf) dari variabel random vi yang dievaluasi pada x.
Parameter dari model probit binary diestimasi dengan menggunakan metode maximum likelihood (ML). Metode ini sangat populer karena metode ini mempunyai dasar teori yang cukup baik (Judge et ai, 1985). ML adalah suatu metode untuk memilih parameter yang diestimasi dengan cara memaksimalkan probabilitas atau likelihood dari data observasi yang dimiliki.




DAFTAR PUSTAKA


Prayitno Hadi dan Arsyad L, 1987.Petani Desa dan Kemiskinan, BPFE, Yogyakarta.
Sugiarto, dkk, 2003.Teknik Sampling, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Umar, Husein, 2003. Metode Penelitian untuk skripsi dan Teknis Bisnis, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Amar Syamsul, 1999.Analisis Ekonomi tentang kemiskinan dan implikasi Kebijaksanaan  Pengentasannya di Pedesaan Propinsi Sumatera Barat, Pasca Sarjana Universitas Airlangga,  Surabaya.
Ginting, Jamilah, 2004. Analisis Faktor Penyebab Pendapatan Petani miskin di Kecamatan Deli Tua Kabupaten Deli Serdang,Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara.
Ibnussalam, 2002.Analisis Faktor-faktor Penyebab Kemiskinan masyarakat Desa (Suatu study pada Desa Bulucina, Tarutungsihoda-hoda dan Desa Gonting Jae Kecamatan Burumun Tengah Kabupaten Tapanuli Selatan), Pasca Sarjana USU Medan.
Molo Maccelinus, 1995. Kemiskinan : Konsep, Pengukuran dan Kebijakan;dalam Populasi No. 6 (2).
Singarimbun, Masri, 1978. Pola Konsumsi Kearah Pemerataan : Prisma No. 10 Tahun VII
Sayogyo, 1973.Golongan miskin dan Partisipasinya dalam Pembangunan Desa, Prisma No. 3 Tahun 1977, PL3ES, Jakarta.
BPS, 2011, Rejang Lebong Dalam Angka, Rejang Lebong Bengkulu.
TNP2K, 2011.  Profil Kemiskinan di Indonesia, dari data tnp2k.go.id/index.php?q=content/kemiskinan-di-indonesia, diunduh 19 Pebruari 2013.
Bappenas, 2012.Kemiskinan di Indonesia dan Penanggulangannya, dari www.bappenas.go.id/node/165/3630/kemiskinan-di-indonesia-dan-penanggulangannya, diunduh 19 Pebruari 2013.

Monday, 5 May 2014

15 KIAT PRAKTIS SEHARI-HARI

:: 15 KIAT PRAKTIS SEHARI-HARI ::
1. Saat makan pedas, terasa pedas sekali? Taruh garam dapur dalam mulut, tahan sebentar terus buang dan kumur. Maka rasa pedas langsung hilang.
2. Gigi kuning? Kunyah-kunyah kacang tanah dan tahan bentar, terus gosok gigi selama 3 menit, akan terlihat dampaknya.
3.Kalau ada luka kecil, terbakar atau luka kena air atau minyak panas, usap dengan pasta gigi, langsung pendarahan berhenti dan sakit reda.
4. Gelas ada bekas teh yang susah hilang? Lap dengan pasta gigi biarkan sesaat, sikat dan bilas.
5. Saat tetes obat mata, mulut agak terbuka sedikit, maka mata pun lebih gampang terbuka.
6. Mulut terluka atau sariawan, pakai tablet vitamin C tempel di luka, setelah mencair, prinsipnya luka sudah sembuh. Jika agak parah, tambahkan dengan vitamin B2.
7. Mata kemasukan debu? Pejamkan mata dan batuk dengan kuat, debu akan keluar sendirinya.
8. Setelah cuci muka, jari tempeli garam halus, terus pelan-pelan pijati kedua sisi hidung, maka komedo dan kotoran hitam di pori-pori akan hilang, dan pori-pori akan mengecil.
9. Jika baru saja digigit nyamuk, segera oles dengan sabun, gatal akan hilang. Untuk menghilangkan bekasnya, oleskan minyak kayu putih atau minya telon.
10. Saat tenggorokan sakit, radang gusi. Pada malam hari makan semangka potong kecil-kecil bersama sedikit garam, pada saat itu keadaan akan membaik dan keesokan harinya bisa dikatakan sudah sembuh.
11. Pakai hair dryer untuk meniup label sticker yg susah dilepas, saat lem sticker sudah panas, maka akan dengan mudah dilepas.
12.Saat bepergian, jika takut baju tertindih kusut, setiap helai baju sebaiknya digulung saja.
13. Lelah karena sendawa tidak berhenti-berhenti juga? Minum sedikit cuka, akan langsung hilang sendawanya.
14. Jika mengonsumsi makanan berbau seperti bawang putih, petai dan lain-lain, makanlah beberapa butir kacang goreng. Bau pun akan segera hilang.
15. Untuk menyembuhkan batuk, terutama batuk kering. Malam sebelum tidur, goreng telur dengan minyak wijen yang agak banyakan, tidak perlu tambahan bahan lain, makan saat panas, makan beberapa hari, akan segera terlihat efeknya.
Like n Share

Sunday, 4 May 2014

PRAKTIKUM TPHP PEMBUATAN SELAI MELON

PRAKTIKUM TPHP PEMBUATAN SELAI MELON
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang
Melon (Cucumis melo L.) merupakan tanaman buah termasuk famili Cucurbitaceae, banyak yang menyebutkan buah melon berasal dari Lembah Panas Persia atau daerah Mediterania yang merupakan perbatasan antara Asia Barat dengan Eropa dan Afrika.Dan tanaman ini akhirnya tersebar luas ke Timur Tengah dan ke Eropa. Pada abad ke-14 melon dibawa ke Amerika oleh Colombus dan akhirnya ditanam luas di Colorado, California, dan Texas.Akhirnya melon tersebar keseluruh penjuru dunia terutama di daerah tropis dan subtropis termasuk Indonesia
Sebelum tahun 1980, buah melon hadir di Indonesia sebagai buah impor.Kemudian banyak perusahaan agribisnis yang mencoba menanam melon untuk dibudidayakan daerah Cisarua (Bogor) dan Kalianda (Lampung) dengan varietas melon dari Amerika, Taiwan, Jepang, Cina, Perancis, Denmark, Belanda dan Jerman
1.2        Rumusan Masalah
1.Bagaimana ciri buah untuk pembuatan selai?
2.Apa saja bahan yang dibutuhkan?
3.Bagaimana proses pembuatan selai melon?
4.Bagaimana ciri pembuatan selai yang sudah masak?
5.Bagaimana cara penyimpananya?
1.3        Tujuan
Laporan  praktikum ini bertujuan untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen pembimbing,serta dapat mengetahui cara pembuatan selai melon.
1.4        Manfaat bagi Mahasiswa
1.       Peningkatan proses belajar mengajar dan praktikkum di lapangan
2.           Peningkatan wawasan dan pengetahuan dalam mengolah hasil pertanian.
3.       Peningkatan kwalitas praktik dalam kegiatan agribisnis.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1    Alat Dan Bahan
a. Alat


1.  Wadah
2.  Pemarut
3.  Spatula
4.  pisau
5.  Wadah tempat penyimpan selai/toples


b.   Bahan


1.  Melon 1 Kg
2.  Gula pasir secukupnya
3.  Pewarna makanan(hijau daun) 3 tetes
4.  Citric acid/garam asem secukupnya



2.2    Langkah Kerja Dan Skema
a.   Langkah Kerja
1.       Buah melon dihilangkan kulitnya(dikupas) dengan pisau.Kemudian dicuci sampai bersih.
2.       Melon diparut sampai diperoleh bubur buah/filtrat dan diletakkan dalam wadah yang sudah disediakan
3.       Letakkan wajan di atas kompor,kemudian bubur buah tersebut dimasak dan tambahkan pewarna makanan,gula serta citric acid
4.       Diaduk pelan-pelan agar selai tidak berbusa atau berbuih  kira-kira 30 menit sampai kumal dan kesat
5.       Bila selai sudah masak(kental dan membalut punggung spatula),angkat wajan dari kompor
6.       Dinginkan,dan selai siap dihidangkan / dikemas dalam wadah penyimpan selai
b.   Skema Pembuatan Selai

2.4        Pembahasan
Untuk pengawetan hasil produk pertanian,banyak cara/macam pengawetan. Pembuatan selai salah satu alternative pengawetan.Pengawetan dengan cara ini dapat membantu meningkatkan pendapatan dan nilai ekonominya.Karena produk pertanian ini mudah dan cepat membusuk.Sehingga pemilihan bahan yang segar sangat berpengaruh terhadap hasil akhir selai.Buah yang baik yaitu buah yang sudah matang(tidak menjadi lembek karena terlalu matang) dan segar,tidak terjadi pembusukan sebagian / dibeberapa tempat.
Pembuatan selai adalah salah satu alternative teknologi pengawetan dengan penggunaan gula.Penambahan gula yang banyak juga menambah lamanya pengawetan.Prosesnya mudah mulai dari pengupasan kulit melon sampai pada proses penyimpanannya.Penyimpanannya pun selai akan tahan lama sampai berbulan-bulan jika waktu pemasakan olahan selai benar-benar masak(tidak berair).Ciri-cirinya,cairannya sudah kental,kesat,dan sudah membalut punggung spatula.
Saat pengemasan selai didinginkan dahulu.Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi penguapan.Tempat/Toples yang digunakan harus steril sebelum digunakan.Yaitu dengan cara dipanaskan.Karena jika ada sisa-sisa  makanan di dalam lipatan tutup/pantat toples ini akan mengundang mikroba dan jamur.Dengan demikian,penyimpanan lebih aman/baik disimpan di tempat sejuk atau lemari pendingin.



BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
            Berdasarkan praktikum inidapat ditarik kesimpulan bahwa pembuatan selai sangat mudah dan tidak memerlukan keterampilan khusus hanya butuh kesabaran dan kebersihan.Dan bahan yang dibutuhkan hanya buah-buahan,,gula citric acid dan sesikit air.Buah yang sudah banyak mengandung air tidak perlu menambahkan banyak air.
3.2    Saran
            Dari pembahasan dan kesimpulan kami dapat menyarankan dalam  pembuatan selai melon harus memilih buah yang masih segar.Karena buah yang segar sangat berpengaruh terhadap hasil akhir pembuatan selai.Pada proses pengolahan diharapkan untuk dilakukan dengan baik/benar sesuai prosedur.
Kami mengharap kritik dan saran demi kesempurnaan laporan praktikum ini.

DAFTAR PUSTAKA


*Resep dari berbagai sumber
FoodGarden_Tips Membuat Selai

Nama: febriyanti ika w
           erwin erfianingsih
           lutfiyanto